Halo dukung channel ku ya 🍀

Ini aku Yellow Daily. Aku akan membagikan pengalaman positif yang sudah aku lalui, dan berdampak baik dalam hidupku. Semoga bisa menginspirasi dan bermanfaat untuk teman-teman.


Yellowdaily

Untuk : Semua subscribers dan teman-teman yang selalu ada di hidup ku.

Thank you for being part of my journey.

Terima kasih sudah bertahan, mendukung, dan selalu meluangkan waktu untuk hadir di setiap karya ku.

Di kehidupan nyata, aku lebih sering menjadi pendengar. Aku senang mendengarkan cerita orang lain, menemani mereka melewati hari-hari yang berat, dan ikut bahagia saat mereka menemukan senyumnya lagi.

Di sisi lain, aku juga suka sekali bercerita. Hanya saja, tidak selalu ada tempat yang membuatku benar-benar nyaman untuk melakukannya.

Lalu hadir Yellow Daily. Tempat kecil yang akhirnya menjadi ruang untukku berbagi cerita, berbagi pengalaman, berbagi keresahan, dan sedikit demi sedikit membagikan ilmu yang aku punya. Rasanya seperti sedang mengobrol dengan teman-teman sendiri, tanpa harus menjadi orang lain.

Terima kasih karena sudah menjadi alasan aku terus belajar, bertumbuh, dan berani kembali setiap kali sempat merasa lelah. Kehadiran kalian membuat perjalanan ini terasa jauh lebih berarti.

I may not know all of you personally, but somehow you already have a special place in my heart.

Semoga setiap kali kalian mampir ke Yellow Daily, kalian pulang dengan hati yang sedikit lebih tenang, pikiran yang lebih ringan, atau setidaknya merasa, "Aku punya teman."

Terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan ini.
See you in the next story 💛

3 months ago | [YT] | 27

Yellowdaily

Terminal

Setiap cerita yang kutulis atau kusampaikan dalam videoku selalu memiliki satu makna: prosesnya telah selesai, dan aku berhasil melewati badai itu.

Hari ini, saat membersihkan galeri ponsel, aku menemukan sebuah foto yang sebenarnya harus kuhapus selamanya. Namun sebelum itu, aku ingin mengabadikannya lewat tulisan ini.

---

Tahun 2025 menjadi tahun yang paling akrab denganku dan terminal. Tahun itu, aku mendadak menjadi orang yang sedikit banyak paham soal bus antarkota—mana patas, mana ekonomi.

Padahal, sejujurnya aku sendiri masih sering bingung membedakannya. Lucu juga kalau diingat. Meski begitu, entah kenapa, setiap kali menebak bus yang akan datang, intuisiku selalu benar.

Tepat setahun yang lalu, aku mengantar seorang teman pulang ke salah satu kota di Jawa Barat. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa hari itu menjadi awal dari ketakutanku untuk kembali menginjakkan kaki di terminal selama berbulan-bulan.

Awalnya semua terasa biasa. Saat ia kembali ke kota ini untuk menemuiku, aku selalu menjadi orang yang paling bersemangat menjemputnya di terminal. Tak peduli panas matahari atau gelapnya malam, rasanya semua itu tidak pernah menjadi masalah.

Sebulan kemudian, saat mengantarnya pulang lagi, aku berkata,

"Nanti kita ketemu lagi di sini, ya. Janji! Kabari aku kalau sudah sampai."

Namun, kabar itu tak pernah datang.

Yang datang justru kabar dari temannya. Bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan, dan ia tak pernah bisa kembali.

Sejak saat itu, terminal menjadi tempat yang selalu kuhindari. Bahkan alun-alun kota yang dulu sering menjadi tempat melepas penat setelah turun dari bus pun tak lagi sanggup kudatangi.

Aku sering bertanya pada diri sendiri, sampai kapan akan terus takut dan menghindar?

Rupanya, takdir sudah menyiapkan jawabannya.

Pada bulan September, aku mendapat tugas ke luar kota. Satu-satunya transportasi yang bisa kugunakan adalah bus. Dengan langkah yang terasa berat, aku memasuki terminal.

Sepanjang perjalanan menuju peron, aku terus berzikir hingga perlahan hatiku menjadi tenang. Aku baru benar-benar bisa bernapas lega saat bus mulai bergerak meninggalkan terminal.

Sejak hari itu, aku memutuskan untuk berhenti lari. Aku ingin benar-benar sembuh dari trauma yang selama ini membayangiku.

Hingga akhirnya, pada April 2026, aku bisa mengatakan bahwa aku telah mengikhlaskan semuanya. Aku belajar bahwa ikhlas memang tidak datang dalam semalam. Ia membutuhkan waktu, keberanian, dan kesediaan untuk menghadapi rasa takut sedikit demi sedikit.

Kini, terminal yang dulu membuat jantungku berdegup kencang hanyalah sebuah tempat yang bisa kembali kuinjak tanpa rasa gentar.

Ternyata, bukan terminal yang menakutkan. Aku hanya pernah kehilangan seseorang di sana. Tempat itu tidak pernah berubah, tetapi aku yang perlahan belajar berdamai dengan kenangan yang ditinggalkannya.

Mungkin, memang seperti itulah hidup. Kita tidak selalu bisa menghapus kenangan, tetapi kita bisa belajar berjalan melewatinya tanpa lagi dihantui rasa takut.

Dan hari ini, saat akhirnya menghapus foto itu, aku sadar bahwa yang benar-benar telah kulepaskan bukanlah gambarnya, melainkan luka yang selama ini kusimpan bersamanya.

4 months ago | [YT] | 13

Yellowdaily

Aku baru sadar, belakangan ini Allah tengah mempertemukanku dengan orang-orang dari masa lalu.

Teman SMP, adik kelas SMA, sampai beberapa orang yang terakhir kali aku temui mungkin hampir sepuluh tahun yang lalu.

Yang selalu bikin aku kaget adalah... mereka masih ingat aku. Hampir selalu mereka yang menyapa duluan.

Kalau aku terlihat agak bingung saat disapa, itu bukan karena sombong. Aku cuma butuh beberapa detik untuk membuka kembali "folder lama" di kepala aku. Kayak, "eh ini siapa ya?" lalu pelan-pelan semua cerita dan kenangan kami muncul lagi.

Jadi untuk kalian yang pernah menyapaku lebih dulu, terima kasih ya.

Mungkin kalian nggak sadar, tapi sapaan sederhana itu selalu berhasil bikin aku bahagia.

Kalau nanti kita ketemu lagi di lain waktu, aku yang akan menyapa duluan. Janji.

Minggu lalu juga ada kejadian yang bikin aku senang sekali.

Waktu itu aku lagi buka kedai seperti biasa. Tiba-tiba ada yang datang dan memanggil dari depan,

"NUNAAA!" (Kakak perempuan dalam bahasa Korea)

Aku langsung menoleh dan dalam hati mikir, "Ya Allah, siapa ya?"

Ternyata adik kelasku waktu SMA.

Rasanya lucu banget. Setelah bertahun-tahun nggak ketemu, kami bisa duduk dan ngobrol lagi seolah waktu nggak berjalan selama itu.

Sambil aku menyiapkan pesanannya, kami saling bertukar cerita tentang hidup masing-masing. Tentang pekerjaan, tentang keseharian, tentang banyak hal yang berubah.

Dan ternyata ada satu hal yang sama kami rasakan. Yaitu, kami sama-sama rindu Jakarta.

"Tapi kenapa kamu malah ngikutin aku ke sini? Bukannya kalo di sana lebih banyak duitnya ya?" tanyaku bercanda.
"Iya kan abis kontrak, Nun. Nanti kalo mau mudik ke Jakarta barengan yuk!" ajaknya.
"InsyaAllah ya," jawabku.

Pulang dari pertemuan itu aku jadi kepikiran. Memang ya, hidup itu unik.

Ada orang yang datang, ada yang pergi, ada yang bahkan tidak pernah kita temui lagi. Tapi ada juga yang tiba-tiba muncul kembali setelah bertahun-tahun, di waktu yang sama sekali tidak kita duga.

People come and go. And sometimes, they come back.

Tapi menurutku, kembalinya seseorang bukan sesuatu yang perlu ditunggu.

Biarkan Allah yang mengatur semuanya.

Karena yang memang baik untuk kita, insyaAllah akan menemukan jalannya sendiri untuk kembali. Entah itu orang, kesempatan, atau kebahagiaan.

Dan meskipun akhir-akhir ini aku sering terlihat sendirian, sebenarnya aku merasa baik-baik saja.

Aku merasa penuh.

Aku merasa cukup.

Aku merasa bahagia.

Semoga kamu juga bisa menemukan bahagiamu sendiri. Bahagia yang tidak bergantung pada siapa yang datang atau siapa yang pergi. Bahagia yang tumbuh dari dalam diri, lalu menetap dengan tenang.

Karena pada akhirnya, tidak semua yang pergi harus kembali. Dan tidak semua yang kembali harus tinggal.

Tapi setiap pertemuan selalu punya cerita, dan setiap cerita selalu punya alasan untuk disyukuri.

Yellowdaily 💛

4 months ago | [YT] | 15

Yellowdaily

Assalamu'alaikum teman-teman.

Tahun lalu bikin wallpaper HP untuk reminder sehari-hari. Semoga bisa jadi pengingat yang bermanfaat dan menemani aktivitas kalian setiap hari.

Silakan dipakai GRATIS yaa, semoga membawa kebaikan dan keberkahan untuk kita.

Untuk versi HD, bisa kalian lihat dan download di Instagram: @yellowdaily99
www.instagram.com/yellowdaily99?igsh=MTMxYjY1cXhjZ…

Jangan lupa share ke teman atau keluarga yang juga membutuhkan reminder ini. Semoga menjadi amal jariyah untuk kita bersama. 🤲

5 months ago (edited) | [YT] | 43

Yellowdaily

#POV

Throwback to two weeks ago when I visited my grandma’s house and enjoyed her special Misoa Ayam. So tasty and comforting! ❤️🍜


🚆 Rembang, Jawa Tengah

5 months ago | [YT] | 26

Yellowdaily

Grey Art Gallery, Bandung.

5 months ago | [YT] | 25

Yellowdaily

Sebagai seorang muslim, bulan Dzulhijjah adalah bulan yang dinanti-nantikan. Dzulhijjah merupakan bulan ke-12 dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan haram (suci) yang dimuliakan dalam Islam. Empat bulan tersebut adalah Muharram, Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah, sebagaimana dijelaskan langsung oleh Rasulullah saw. melalui hadits-hadits beliau.

Diantaranya, dalam Khutbah Haji Wada’, Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, sebagaimana keadaan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan mulia. Tiga di antaranya berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil Tsani dan Sya’ban.”
(HR. Bukhari)

Selain itu, pada bulan inilah dilaksanakan ibadah haji, puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah, serta Iduladha pada 10 Dzulhijjah.

Salah satu ayat tentang haji yang kutulis di mini journal-ku adalah QS Al-Hajj ayat 27. Ayat ini berisi perintah Allah Swt. kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyeru manusia agar menunaikan ibadah haji.

Sebagian orang juga meyakini bahwa ayat ini dapat menjadi doa agar dimudahkan berangkat haji, dilapangkan rezeki, dan dipertemukan dengan jodoh yang baik.

Wallahu a’lam bish-shawab (Dan Allah yang Maha Mengetahui kebenaran yang sesungguhnya)

💛

5 months ago | [YT] | 32

Yellowdaily

Stasiun

Suara pengumuman menggema samar di antara riuh langkah para penumpang. Aroma kopi dari kedai kecil di sudut peron bercampur dengan bau besi rel yang dingin. Aku duduk di bangku panjang, menenggelamkan diri dalam halaman-halaman buku yang sejak tadi setia menemaniku. Waktu terasa melambat, seolah ikut menunggu kereta yang belum juga datang.

Sesekali aku mengangkat pandangan, melihat orang-orang berlalu dengan tujuan masing-masing. Ada yang tergesa, ada pula yang tampak santai, seperti tidak ingin berpisah dari tempat ini. Namun aku kembali menunduk, membiarkan cerita dalam buku menggantikan hiruk-pikuk dunia nyata.

Hingga akhirnya, aku beranjak dari tempat dudukku.

Langkahku baru saja menjauh beberapa jengkal ketika sebuah suara memanggil dari belakang.

“Mbak, keychain-nya jatuh.”

Aku terhenti. Seketika jantungku seperti ikut tersentak. Refleks, aku menoleh dan mendapati gantungan kunci kesayanganku berada di tangan seseorang. Aku memutar badan, hendak mengambilnya.

“Eh…”

Kami saling menunjuk, bersamaan, seperti adegan yang terlalu kebetulan untuk disebut biasa.

Wajah itu.

Tidak asing.

Seperti pernah tersimpan rapi di sudut ingatan yang lama tak kubuka.

Aku yakin itu dia.

“Mas Harry?” tanyaku ragu, meski dalam hati sudah hampir pasti.

Ia tersenyum kecil, sedikit terkejut namun hangat. “Adek kelas kan? Jieun? Eh, pangling banget. Ini keychain-mu jatuh tadi. Kamu sibuk banget baca bukunya.”

Aku tersenyum, sedikit canggung, menerima gantungan kunci itu. “Iya Mas, makasih ya.” Tanganku otomatis memasangnya kembali di tas, seolah tak ingin kehilangannya untuk kedua kali.

“Sama-sama. Mau ke mana, Dek?” tanyanya, nada suaranya ringan namun penuh rasa ingin tahu.

“Bandung. Mas Harry mau ke Bandung juga?” jawabku, mencoba terdengar biasa.

“Aku mau ke Jakarta. Besok adekku wisuda,” katanya.

Aku mengangguk pelan. “Hati-hati ya, Mas. Aku duluan ya, Mas,” kataku terburu-buru, meski sebenarnya ada banyak hal yang bisa saja kami bicarakan.

“Iya, Dek. Oh ya, boleh minta nomor WhatsApp kamu?”

Aku terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum. “Aku kasih kartu nama aja ya, Mas,” jawabku sambil mengeluarkan kartu kecil dari dalam dompet.

“Oh, oke. Hati-hati ya, Dek.”

Aku mengangguk, membalas senyumnya, lalu berbalik melangkah pergi.

Langkahku terasa sedikit lebih berat dari sebelumnya.

Ternyata, pertemuan dengan orang lama di tempat umum itu benar adanya. Datang tanpa rencana, pergi tanpa kepastian. Selama ini aku berjalan di antara banyak wajah, namun jarang benar-benar berhenti untuk menyapa.

Dan hari ini, di sebuah stasiun, masa lalu sempat memanggilku. Hanya untuk mengingatkan bahwa tidak semua yang pernah dekat akan kembali tinggal.

6 months ago (edited) | [YT] | 25

Yellowdaily

Halo Bandung!

6 months ago | [YT] | 21

Yellowdaily

Interaksi

🌷 “Jiii… liat deh! Om Tulus tampil di Prambanan Jazz tahun ini. Pas banget sama jadwal tiket ku.”
🌹 “Seriusan, Vi? Kok aku kudet banget 😭 Yaudah, seperti biasa aku nitip fancam ya.”
🌷 “Oke! Pas perform Interaksi kan?”
🌹 “Iya, betul banget. Kamu udah hafal apa yang ku suka pokoknya. I love you, Vi.”
🌷 “I love you too, my rose… Jieuni.”

—

Itu obrolanku sama Sevi, sahabatku. Dia selalu jadi orang pertama yang ngasih kabar kalau ada apa-apa tentang Tulus. Penyanyi solo pria favoritku.

Aku suka cara ia merangkai kata. Diksinya sederhana, tapi rasanya seperti doa yang dipanjatkan pelan-pelan. Indah, tenang, dan somehow… sampai.

Entah sejak kapan, aku jadi ikut-ikutan. Kalau berdoa, aku memilih kata-kata terbaik versiku sendiri. Aku susun rapi, lalu kubacakan pada Rabb-ku, Sang Maha Penyayang. Seolah aku juga sedang menulis sebuah lagu, tapi hanya untuk didengar oleh-Nya.

Salah satu lagu Tulus yang paling aku suka adalah *Interaksi*. Lagu itu seperti doa setelah istikharah. Tentang menerima, tentang meminta yang terbaik.

“Bila bukan untuk aku,
Hindariku dari patah hati itu.
Jika dia memang bisa untukku,
Sini… dekat dan dekatlah.
Dan jika dia memang bukan untukku,
Tolong… reda dan redalah,
Atau mendekatlah.”

Buatku, doa istikharah itu nggak melulu soal cinta-cintaan. Kadang aku memakainya juga untuk hal-hal lain. Tentang pilihan, tentang keputusan yang nggak mudah. Tentang arah hidup yang seringkali bikin ragu.

Seperti waktu itu…
waktu aku memutuskan untuk bertemu dengan sahabat penaku.

—

Sebelum aku punya tempat bercerita di platform ini, yang sekarang kusebut *Yellow Daily*. Aku punya seorang sahabat pena.

Namanya… unik sekali. Dua kata, tapi asing. Nggak pernah kutemukan di tokoh novel mana pun, atau di buku apa pun.

Sampai aku pernah nanya, setengah curiga, setengah heran,
“Ini beneran nama asli kamu?”

Aku memang nggak mudah percaya sama orang baru.
Dan ia dengan santainya membuktikan semuanya. Bahkan sampai menunjukkan KTP.

Sejak itu aku percaya. Dan sejak itu juga, namanya kutulis di buku jurnal ku. Karena bagiku, siapa pun yang masuk ke jurnal, berarti dia pernah jadi bagian dari cerita yang cukup berarti.

Aku memanggilnya… Pigma Micron.

—

Kami lama bertukar cerita sebagai sahabat pena.
Sampai suatu hari, kami memutuskan untuk bertemu.

Jujur saja, aku takut. Padahal aku yang paling cerewet kalau sudah menulis. Paragraf demi paragraf bisa mengalir begitu saja.

Dia bahkan pernah bilang, kalau dia sering mencari arti kalimatku di Google. Katanya, terlalu banyak diksi yang nggak biasa ia baca.

Lucu, sebenarnya. Aku kira ia bakal paham. Mengingat jurusan kuliahnya juga nggak jauh dari dunia kata-kata.

Sejak itu, aku mencoba menurunkan “level” bahasaku.
Lebih sederhana untuknya. Lebih manusiawi, mungkin.

—

Tentang pertemuan itu…
dia bilang akan datang ke kotaku.

Rasanya seperti disambar petir. Kok bisa?
Gimana caranya? Dan kenapa aku yakin ini nggak bakal kejadian?

Tapi dia terus mengabari. Dia benar-benar akan datang jika tidak ada kendala. Untungnya, dia bilang nggak sendirian. Ada temannya. Itu sedikit melegakan.

Meski begitu, rasa takut tetap ada. Akhirnya aku ambil wudu, lalu salat istikharah.

Dalam doaku, aku bilang:

“Kalau dia akan membawa hal buruk, jangan biarkan kami bertemu. Tapi kalau pertemuan ini baik, tolong lancarkan.”

Dan ternyata… semuanya dimudahkan.

Aku tetap waspada. Tentu saja. Batasan tetap ada. Kami pun sepakat untuk tidak terlalu sering bertemu, meskipun jarak kota kami sebenarnya dekat.

Kami kembali ke cara awal: bercerita lewat tulisan.

—

Sampai suatu waktu…
dia menghilang.

Aku sempat bertanya,
“Hey, are you okay?”

Tapi tidak ada balasan.

Dan aku memilih berhenti di situ. Bukan karena tidak peduli, tapi karena aku tahu tidak semua cerita harus dipaksa berlanjut.

Aku tetap melanjutkan hidupku tanpa terlalu memikirkannya. Masih banyak episode lain yang menunggu untuk dijalani.

Meski begitu, aku sempat khawatir. Karena biasanya, dia selalu bercerita.

Akhirnya, seperti biasa aku ceritakan semuanya pada Allah.

Kalau memang episodenya sudah selesai, aku minta untuk benar-benar diakhiri.

—

Beberapa hari kemudian, dia kembali.

Katanya, dia akan pergi jauh.
Dan ingin mengembalikan “simbol” persahabatan kami.

Aku hanya bilang,
“Nggak perlu dikembalikan. Buang saja kalau sudah nggak cocok.”

Sedih? Iya. Tapi hanya sebentar.

Karena aku mikirnya gini. Bagaimana mungkin aku terlalu lama bersedih hanya karena satu orang,
sementara Allah sudah menghadirkan banyak orang baik yang tetap tinggal?

Hari itu, cerita kami selesai.

Aku tidak menghapus nomor ataupun memblokirnya. Nomor itu masih berada di tumpukan kontak ku. Aku biarkan nomor itu melebur sampai tidak aktif sendiri.

Biarkan saja dia tetap ada di sana, sebagai tokoh yang pernah jadi cerita dalam hidupku.

—

Tulisan ini pun kutulis tahun lalu,
saat aku sedang me time di cafe aesthetic favoritku, Paris Ice Cream & Gelato.

Dan hari ini, aku teringat lagi semuanya…
hanya karena satu kabar sederhana dari Sevi:

“Tulus bakal manggung di Prambanan Jazz 2026.”

Oh iya, satu hal lagi.
Pigma Micron itu sebenarnya cuma nama samaran. Itu adalah merk pena yang paling sering kupakai untuk menulis cerita-cerita seperti ini.

6 months ago | [YT] | 26