Ada kalanya kita terlalu sibuk dengan rutinitas hingga lupa bertanya,apa sebenarnya makna dari apa yang kita lakukan setiap hari di Bangsa ini?.
Pada 19 Mei 2026, di lingkungan PT Panasonic Manufacturing Indonesia (PMI), pertanyaan itu seolah mendapat jawabannya. Bukan melalui seminar atau diskusi panjang, melainkan melalui sebuah Apel Besar yang berlangsung dengan khidmat.
Banyak Orang Bertanya, mengapa sebuah perusahaan manufaktur Besar Mau menyisihkan waktu, tenaga, dan perhatian untuk sebuah upacara bendera setiap bulannya?, Bukankah target produksi lebih mendesak? Bukankah efisiensi lebih penting? , Namun semakin dalam kita merenung, semakin kita sadar bahwa ada sesuatu yang lebih fundamental dari sekadar angka-angka produksi. Ada nilai. Ada identitas. Ada jiwa.
Apel Besar itu ternyata bukan sekadar rutinitas. Ia adalah momentum penguatan patriotisme sekaligus implementasi nyata dari apa yang disebut sebagai Hubungan Industrial Pancasila. Dua hal yang sering dianggap abstrak, tiba-tiba menjadi konkret di hadapan mata kita.
acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional. Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, hadir bersama Staf Khusus Menaker, Indra. Di sisi lain, Rachmat Gobel dan Arif Gobel,tokoh industri yang namanya telah melegenda juga turut serta.
apa arti kehadiran mereka? Apakah hanya untuk memenuhi undangan? Atau ada sesuatu yang lebih dalam?
Semakin kita renungkan, semakin kita mengetahui bahwa kehadiran mereka adalah pengakuan atas pentingnya hubungan industrial yang harmonis. Mereka datang bukan untuk memberi perintah, melainkan untuk menunjukkan bahwa pemerintah dan pelaku industri bisa berdiri sejajar, saling mendengar, dan bersama-sama menjaga stabilitas ekonomi serta kesejahteraan pekerja. Itu adalah sinyal yang sangat penting di tengah zaman yang kerap mempertajam perbedaan.
Apel Besar kali ini bertepatan dengan Bulan Hubungan Industrial dan rangkaian peringatan 7 Dekade Gobel Membangun Negeri. Tujuh puluh tahun. Sebuah usia yang membuat kita merenung tentang makna keberlanjutan.
Apa yang membuat sebuah kelompok usaha bisa bertahan selama itu? Jawabannya mungkin bukan hanya strategi bisnis yang cerdas, melainkan komitmen pada nilai-nilai yang lebih besar. Gobel Group telah membuktikan bahwa sektor swasta bisa menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan nasional. Mereka tidak hanya mengejar laba, tetapi juga memberdayakan tenaga kerja lokal secara berkelanjutan. Itulah teladan yang patut kita syukuri dan kita rawat bersama.
Dalam upacara tersebut, Presiden FSPPG, Djoko Wahyudi, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara, menekankan bahwa nilai-nilai kebangsaan harus menjadi fondasi lingkungan kerja. Kita merenung, bukankah itu benar? Tempat kerja bukanlah zona netral nilai. Ia adalah ruang sosial di mana rasa hormat, tanggung jawab, dan cinta tanah air harus terus dipupuk. Jika tidak, yang tersisa hanyalah hubungan transaksional yang dingin dan rapuh. Dan kita semua tidak menginginkan itu.
Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli dalam arahannya menyoroti pentingnya inovasi sebagai pilar daya saing. Baginya, Hubungan Industrial Pancasila harus mendorong produktivitas melalui peningkatan kompetensi SDM dan adaptasi teknologi yang cepat.
apakah kita benar-benar siap untuk itu? Perubahan zaman tidak pernah meminta izin. Ia datang, kadang perlahan, kadang tiba-tiba. Dan pertanyaan yang selalu menghantui adalah apakah pekerja kita cukup tangguh? Apakah industri kita cukup lincah? Apakah kita sebagai bangsa cukup siap?
Menaker Yassierli mengingatkan bahwa budaya kerja yang responsif terhadap perubahan adalah kunci. Kita setuju. Namun refleksi kita bersama, responsif saja tidak cukup. Harus ada keberanian untuk meninggalkan zona nyaman, kerendahan hati untuk terus belajar, dan keyakinan bahwa pekerja Indonesia mampu bersaing di pasar global. Itulah tantangan sejati yang jarang diucapkan, tetapi terasa berat. Namun bukankah kita biasa menghadapi tantangan?
Rachmat Gobel memberikan apresiasi kepada Kementerian Ketenagakerjaan. Namun ia juga menyampaikan catatan yang membuat kita terdiam sejenak. Ia mendesak tindakan tegas terhadap peredaran produk ilegal yang merusak ekosistem pasar lokal dan mengancam keselamatan konsumen.
apakah kita sebagai bangsa terlalu lunak terhadap pelanggaran? Apakah kita cukup melindungi apa yang menjadi hak kita sendiri? Produk ilegal bukan hanya soal kerugian ekonomi. Ia adalah pengkhianatan terhadap kerja keras anak bangsa. Ia adalah ketidakadilan yang sering dibiarkan. Dan kita semua sepakat bahwa ketidakadilan tidak boleh dibiarkan.
Rachmat Gobel, dengan pengalamannya, seolah mengingatkan bahwa nasionalisme tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera. Nasionalisme juga berarti keberanian untuk melindungi pasar sendiri, menindak tegas pelanggar, dan memastikan bahwa produk yang beredar aman untuk masyarakat. Sebuah renungan yang pahit, tetapi jujur. Dan kita perlu merenungkannya dengan hati terbuka.
Apel Besar di Panasonic PMI selalu menyertakan prosesi pengibaran Bendera Merah Putih, pembacaan Pancasila, dan mengheningkan cipta. Tradisi ini, menurut kita, bukanlah sekadar formalitas. Ia adalah latihan jiwa bagi kita semua. Setiap bulan, para karyawan diajak untuk berhenti sejenak, mengingat jasa pahlawan, dan meneguhkan kembali komitmen pada bangsa.
Kita membayangkan bagaimana rasanya berdiri di barisan itu. Dingin pagi menyentuh kulit. Suara komandan menggema. Merah Putih perlahan naik. Dalam hening cipta, semua orang merunduk, mengenang mereka yang telah gugur. Momen seperti itu tidak bisa diukur dengan uang. Ia adalah investasi spiritual yang membentuk karakter kita sebagai bangsa.
Peninjauan Fasilitas: Refleksi tentang Kemanusiaan di Tempat Kerja
Setelah upacara, Menaker Yassierli didampingi Vice President PT PMI, Daniel Suhardiman, meninjau berbagai fasilitas. Kita membayangkan mereka berjalan menyusuri Perpustakaan EBE.Edu,sebuah pusat literasi di tengah pabrik. Kita merenung: betapa berharganya ruang seperti ini. Di sanalah pekerja tidak hanya menjadi mesin produksi, tetapi juga manusia yang berpikir, membaca, dan tumbuh. Bukankah itu yang kita harapkan dari tempat kerja yang bermartabat?
Lalu fasilitas kesejahteraan karyawan. Kamar mandi yang bersih, ruang istirahat yang layak, tempat ibadah yang tenang. Hal-hal sederhana yang sering dilupakan, tetapi sangat menentukan martabat manusia. Dan di akhir, penanaman pohon. Simbol yang membuat kita merenung paling lama.
Sebatang pohon ditanam. Ia tidak akan besar dalam semalam. Ia butuh waktu, air, dan kesabaran. Bukankah hubungan industrial juga demikian? Tidak bisa dipaksakan dengan peraturan semata. Ia harus ditanam, dirawat, dan dilindungi oleh kita semua. Dan suatu hari nanti, ia akan memberikan keteduhan bagi generasi yang akan datang. Itulah warisan yang ingin kita tinggalkan.
Melalui agenda ini, PT Panasonic Manufacturing Indonesia telah membuktikan bahwa hubungan industrial yang kokoh bukan hanya soal kebijakan formal. Ia adalah tentang budaya, budaya kebersamaan, budaya saling menghormati, budaya menjunjung nilai-nilai luhur Pancasila. Dan semua itu adalah tanggung jawab kita bersama.
kita melihat wajah Indonesia yang sedang berusaha menjadi lebih baik. Tidak sempurna. Tapi bergerak. Perlahan, tetapi pasti. Dan mungkin, di situlah letak refleksi yang paling jujur, kita belum sampai, tetapi kita tidak pernah berhenti berjalan bersama.
Persiapan Agenda Nasional PENAS di Gorontalo Capai 70 persen.
Cuaca panas yang menyengat tak menyurutkan langkah Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, bersama Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie. Rabu (20/5/2026), mereka turun langsung meninjau kesiapan lokasi Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan ke-XVII di GOR David–Tonny, Kelurahan Hepuhulawa, Kecamatan Limboto.
Yang jadi pusat perhatian bukan hanya gedung olahraga itu sendiri, tapi areal persawahan di seberang jalan. Di sinilah lokasi Gelar Teknologi Pertanian bakal digelar. Tak tanggung-tanggung, acara yang akan dihadiri belasan ribu peserta dari seluruh Indonesia ini disiapkan semaksimal mungkin.
“Perkembangannya sudah lebih maju. Kalau saya presentasikan, kondisi lapangan untuk gelar teknologi ini sudah sekitar 60-70 persen,” ujar Gusnar usai peninjauan, optimis.
Lebih dari sekadar ajang seremonial, Gusnar berharap lokasi ini tak mati setelah PENAS usai. Ia membayangkan areal persawahan itu menjadi etalase pertanian modern yang bisa dikunjungi siapa saja.
“Nanti setelah PENAS, saya sudah sampaikan ke Pak Bupati. Tapi tentu nanti Pak Bupati bicara lagi dengan DPRD. Kami berpikir, lokasi ini jadi objek etalase pertanian modern di Gorontalo. Masyarakat bisa datang, belajar bertani di sini,” tambahnya penuh harap.
Sementara sang gubernur fokus ke lokasi teknologi pertanian, Wagub Idah lebih dulu menyapa 400 siswa SMA sederajat yang tengah berlatih keras di bawah terik matahari. Mereka mempersiapkan tarian kolosal bertema petani dan nelayan untuk pembukaan PENAS pada 20 Juni 2026.
Idah yang tampak akrab memberikan motivasi langsung kepada para pelajar itu. Ia mengingatkan bahwa penampilan mereka akan sangat istimewa karena Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.
“Berlatih dengan baik, karena kalian akan tampil membanggakan Gorontalo di mata seluruh Indonesia. Presiden juga akan menyaksikan,” pesan Idah penuh semangat.
Dengan target tinggal menghitung hari, semua mata kini tertuju pada kolaborasi petani, nelayan, pemuda, dan pemerintah daerah yang terus bergerak cepat. PENAS ke-XVII bukan hanya ajang unjuk teknologi, tapi juga panggung kebanggaan baru bagi Bumi Serambi Madinah
Himpunan
Sebuah desa di Gorontalo
5 months ago | [YT] | 4
View 0 replies
Himpunan
Negeri di Atas Awan,Desa Dulamayo Puncak Gorontalo,Cocok Untuk Destinasi Agrowisata PENAS 2026
5 months ago (edited) | [YT] | 3
View 0 replies
Himpunan
Merah Putih di Dalam Pabrik
Ada kalanya kita terlalu sibuk dengan rutinitas hingga lupa bertanya,apa sebenarnya makna dari apa yang kita lakukan setiap hari di Bangsa ini?.
Pada 19 Mei 2026, di lingkungan PT Panasonic Manufacturing Indonesia (PMI), pertanyaan itu seolah mendapat jawabannya. Bukan melalui seminar atau diskusi panjang, melainkan melalui sebuah Apel Besar yang berlangsung dengan khidmat.
Banyak Orang Bertanya, mengapa sebuah perusahaan manufaktur Besar Mau menyisihkan waktu, tenaga, dan perhatian untuk sebuah upacara bendera setiap bulannya?, Bukankah target produksi lebih mendesak? Bukankah efisiensi lebih penting? , Namun semakin dalam kita merenung, semakin kita sadar bahwa ada sesuatu yang lebih fundamental dari sekadar angka-angka produksi. Ada nilai. Ada identitas. Ada jiwa.
Apel Besar itu ternyata bukan sekadar rutinitas. Ia adalah momentum penguatan patriotisme sekaligus implementasi nyata dari apa yang disebut sebagai Hubungan Industrial Pancasila. Dua hal yang sering dianggap abstrak, tiba-tiba menjadi konkret di hadapan mata kita.
acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional. Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, hadir bersama Staf Khusus Menaker, Indra. Di sisi lain, Rachmat Gobel dan Arif Gobel,tokoh industri yang namanya telah melegenda juga turut serta.
apa arti kehadiran mereka? Apakah hanya untuk memenuhi undangan? Atau ada sesuatu yang lebih dalam?
Semakin kita renungkan, semakin kita mengetahui bahwa kehadiran mereka adalah pengakuan atas pentingnya hubungan industrial yang harmonis. Mereka datang bukan untuk memberi perintah, melainkan untuk menunjukkan bahwa pemerintah dan pelaku industri bisa berdiri sejajar, saling mendengar, dan bersama-sama menjaga stabilitas ekonomi serta kesejahteraan pekerja. Itu adalah sinyal yang sangat penting di tengah zaman yang kerap mempertajam perbedaan.
Apel Besar kali ini bertepatan dengan Bulan Hubungan Industrial dan rangkaian peringatan 7 Dekade Gobel Membangun Negeri. Tujuh puluh tahun. Sebuah usia yang membuat kita merenung tentang makna keberlanjutan.
Apa yang membuat sebuah kelompok usaha bisa bertahan selama itu? Jawabannya mungkin bukan hanya strategi bisnis yang cerdas, melainkan komitmen pada nilai-nilai yang lebih besar. Gobel Group telah membuktikan bahwa sektor swasta bisa menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan nasional. Mereka tidak hanya mengejar laba, tetapi juga memberdayakan tenaga kerja lokal secara berkelanjutan. Itulah teladan yang patut kita syukuri dan kita rawat bersama.
Dalam upacara tersebut, Presiden FSPPG, Djoko Wahyudi, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara, menekankan bahwa nilai-nilai kebangsaan harus menjadi fondasi lingkungan kerja. Kita merenung, bukankah itu benar? Tempat kerja bukanlah zona netral nilai. Ia adalah ruang sosial di mana rasa hormat, tanggung jawab, dan cinta tanah air harus terus dipupuk. Jika tidak, yang tersisa hanyalah hubungan transaksional yang dingin dan rapuh. Dan kita semua tidak menginginkan itu.
Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli dalam arahannya menyoroti pentingnya inovasi sebagai pilar daya saing. Baginya, Hubungan Industrial Pancasila harus mendorong produktivitas melalui peningkatan kompetensi SDM dan adaptasi teknologi yang cepat.
apakah kita benar-benar siap untuk itu? Perubahan zaman tidak pernah meminta izin. Ia datang, kadang perlahan, kadang tiba-tiba. Dan pertanyaan yang selalu menghantui adalah apakah pekerja kita cukup tangguh? Apakah industri kita cukup lincah? Apakah kita sebagai bangsa cukup siap?
Menaker Yassierli mengingatkan bahwa budaya kerja yang responsif terhadap perubahan adalah kunci. Kita setuju. Namun refleksi kita bersama, responsif saja tidak cukup. Harus ada keberanian untuk meninggalkan zona nyaman, kerendahan hati untuk terus belajar, dan keyakinan bahwa pekerja Indonesia mampu bersaing di pasar global. Itulah tantangan sejati yang jarang diucapkan, tetapi terasa berat. Namun bukankah kita biasa menghadapi tantangan?
Rachmat Gobel memberikan apresiasi kepada Kementerian Ketenagakerjaan. Namun ia juga menyampaikan catatan yang membuat kita terdiam sejenak. Ia mendesak tindakan tegas terhadap peredaran produk ilegal yang merusak ekosistem pasar lokal dan mengancam keselamatan konsumen.
apakah kita sebagai bangsa terlalu lunak terhadap pelanggaran? Apakah kita cukup melindungi apa yang menjadi hak kita sendiri? Produk ilegal bukan hanya soal kerugian ekonomi. Ia adalah pengkhianatan terhadap kerja keras anak bangsa. Ia adalah ketidakadilan yang sering dibiarkan. Dan kita semua sepakat bahwa ketidakadilan tidak boleh dibiarkan.
Rachmat Gobel, dengan pengalamannya, seolah mengingatkan bahwa nasionalisme tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera. Nasionalisme juga berarti keberanian untuk melindungi pasar sendiri, menindak tegas pelanggar, dan memastikan bahwa produk yang beredar aman untuk masyarakat. Sebuah renungan yang pahit, tetapi jujur. Dan kita perlu merenungkannya dengan hati terbuka.
Apel Besar di Panasonic PMI selalu menyertakan prosesi pengibaran Bendera Merah Putih, pembacaan Pancasila, dan mengheningkan cipta. Tradisi ini, menurut kita, bukanlah sekadar formalitas. Ia adalah latihan jiwa bagi kita semua. Setiap bulan, para karyawan diajak untuk berhenti sejenak, mengingat jasa pahlawan, dan meneguhkan kembali komitmen pada bangsa.
Kita membayangkan bagaimana rasanya berdiri di barisan itu. Dingin pagi menyentuh kulit. Suara komandan menggema. Merah Putih perlahan naik. Dalam hening cipta, semua orang merunduk, mengenang mereka yang telah gugur. Momen seperti itu tidak bisa diukur dengan uang. Ia adalah investasi spiritual yang membentuk karakter kita sebagai bangsa.
Peninjauan Fasilitas: Refleksi tentang Kemanusiaan di Tempat Kerja
Setelah upacara, Menaker Yassierli didampingi Vice President PT PMI, Daniel Suhardiman, meninjau berbagai fasilitas. Kita membayangkan mereka berjalan menyusuri Perpustakaan EBE.Edu,sebuah pusat literasi di tengah pabrik. Kita merenung: betapa berharganya ruang seperti ini. Di sanalah pekerja tidak hanya menjadi mesin produksi, tetapi juga manusia yang berpikir, membaca, dan tumbuh. Bukankah itu yang kita harapkan dari tempat kerja yang bermartabat?
Lalu fasilitas kesejahteraan karyawan. Kamar mandi yang bersih, ruang istirahat yang layak, tempat ibadah yang tenang. Hal-hal sederhana yang sering dilupakan, tetapi sangat menentukan martabat manusia. Dan di akhir, penanaman pohon. Simbol yang membuat kita merenung paling lama.
Sebatang pohon ditanam. Ia tidak akan besar dalam semalam. Ia butuh waktu, air, dan kesabaran. Bukankah hubungan industrial juga demikian? Tidak bisa dipaksakan dengan peraturan semata. Ia harus ditanam, dirawat, dan dilindungi oleh kita semua. Dan suatu hari nanti, ia akan memberikan keteduhan bagi generasi yang akan datang. Itulah warisan yang ingin kita tinggalkan.
Melalui agenda ini, PT Panasonic Manufacturing Indonesia telah membuktikan bahwa hubungan industrial yang kokoh bukan hanya soal kebijakan formal. Ia adalah tentang budaya, budaya kebersamaan, budaya saling menghormati, budaya menjunjung nilai-nilai luhur Pancasila. Dan semua itu adalah tanggung jawab kita bersama.
kita melihat wajah Indonesia yang sedang berusaha menjadi lebih baik. Tidak sempurna. Tapi bergerak. Perlahan, tetapi pasti. Dan mungkin, di situlah letak refleksi yang paling jujur, kita belum sampai, tetapi kita tidak pernah berhenti berjalan bersama.
5 months ago (edited) | [YT] | 2
View 0 replies
Himpunan
Persiapan Agenda Nasional PENAS di Gorontalo Capai 70 persen.
Cuaca panas yang menyengat tak menyurutkan langkah Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, bersama Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie. Rabu (20/5/2026), mereka turun langsung meninjau kesiapan lokasi Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan ke-XVII di GOR David–Tonny, Kelurahan Hepuhulawa, Kecamatan Limboto.
Yang jadi pusat perhatian bukan hanya gedung olahraga itu sendiri, tapi areal persawahan di seberang jalan. Di sinilah lokasi Gelar Teknologi Pertanian bakal digelar. Tak tanggung-tanggung, acara yang akan dihadiri belasan ribu peserta dari seluruh Indonesia ini disiapkan semaksimal mungkin.
“Perkembangannya sudah lebih maju. Kalau saya presentasikan, kondisi lapangan untuk gelar teknologi ini sudah sekitar 60-70 persen,” ujar Gusnar usai peninjauan, optimis.
Lebih dari sekadar ajang seremonial, Gusnar berharap lokasi ini tak mati setelah PENAS usai. Ia membayangkan areal persawahan itu menjadi etalase pertanian modern yang bisa dikunjungi siapa saja.
“Nanti setelah PENAS, saya sudah sampaikan ke Pak Bupati. Tapi tentu nanti Pak Bupati bicara lagi dengan DPRD. Kami berpikir, lokasi ini jadi objek etalase pertanian modern di Gorontalo. Masyarakat bisa datang, belajar bertani di sini,” tambahnya penuh harap.
Sementara sang gubernur fokus ke lokasi teknologi pertanian, Wagub Idah lebih dulu menyapa 400 siswa SMA sederajat yang tengah berlatih keras di bawah terik matahari. Mereka mempersiapkan tarian kolosal bertema petani dan nelayan untuk pembukaan PENAS pada 20 Juni 2026.
Idah yang tampak akrab memberikan motivasi langsung kepada para pelajar itu. Ia mengingatkan bahwa penampilan mereka akan sangat istimewa karena Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.
“Berlatih dengan baik, karena kalian akan tampil membanggakan Gorontalo di mata seluruh Indonesia. Presiden juga akan menyaksikan,” pesan Idah penuh semangat.
Dengan target tinggal menghitung hari, semua mata kini tertuju pada kolaborasi petani, nelayan, pemuda, dan pemerintah daerah yang terus bergerak cepat. PENAS ke-XVII bukan hanya ajang unjuk teknologi, tapi juga panggung kebanggaan baru bagi Bumi Serambi Madinah
5 months ago | [YT] | 2
View 0 replies